Monday, April 22, 2024
HomeNationalAwal Tahun, Dolar AS Lesu, Rupiah Dkk Sukses Nanjak!

Awal Tahun, Dolar AS Lesu, Rupiah Dkk Sukses Nanjak!

[ad_1]

Jakarta, CNBC Indonesia – Mengawali awal tahun 2023, kurs rupiah berhasil melibas dolar Amerika Serikat (AS) hingga pada pertengahan perdagangan Senin (01/02/2023), sejalan dengan penguatan mayoritas mata uang di Asia.

Mengacu pada data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan rupiah menguat cukup tajam 0,55% ke Rp 15.480/US$. Namun, rupiah memangkas penguatannya menjadi hanya 0,03% menjadi Rp 15.565/US$ pada pukul 11:00 WIB.

Penguatan Mata Uang Garuda salah satunya ditopang oleh pelemahan indeks dolar AS di pasar spot. Pukul 11:00 WIB, indeks dolar AS terkoreksi 0,03% ke posisi 103,49.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan angka inflasi yang diukur dari Indeks Harga Konsumen (IHK) sepanjang tahun 2022 sebesar 5,51%.

Sementara itu, IHK pada bulan Desember mengalami inflasi sebesar 0,66% (month to month/mtm).

“Terjadi inflasi sebesar 5,51%. Inflasi tahun ke tahun ini merupakan inflasi tahun kalender 2022,” papar Kepala BPS Margo Yuwono, Senin (2/1/2023).

Inflasi tahunan ini, kata Margo, dipicu oleh tarif transportasi 15,26% dengan andil 1,84%. Kedua, inflasi terjadi pada makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,83% dan andilnya 1,51%.

Angka inflasi tersebut lebih tinggi dari konteks yang dihimpun Tim Riset CNBC Indonesia di 5,39%.

Laju inflasi tersebut menjadi laju tertinggi sejak 2014. Pada 2014, angka inflasi menembus 8,36%.

Sementara itu, pada Minggu pagi waktu setempat (01/01/2023), Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva memberikan peringatan bahwa tahun ini akan menjadi tahun yang sulit karena AS, Eropa dan China akan mengalami aktivitas perekonomian yang melemah.

Negara ketiga tersebut merupakan mesin utama pertumbuhan ekonomi global. Sehingga jika perekonomiannya melemah, tentunya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara lainnya.

Pada Oktober lalu, IMF bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2023, menunjukkan hambatan yang terus berlanjut dari perang di Ukraina serta tekanan inflasi dan suku bunga tinggi.

Indeks dolar AS yang terkoreksi di pasar spot, membuka peluang penguatan mata uang di Asia. Mata uang mayoritas di Asia sukses menguat, di mana yuan China memimpin penguatan sebesar 0,94% terhadap dolar AS.

Kemudian disusul oleh ringgit Malaysia dan rupee India terapresiasi masing-masing sebesar 0,45% da 0,18% di hadapan si greenback.

Namun, baht Thailand stagnan dan dolar Taiwan melemah 0,36% di hadapan dolar AS.


TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Dolar Makin Perkasa, Rupiah Terkapar ke Atas Rp 15.000/USD


(aaf/aaf)


[ad_2]

Source link

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments