Friday, July 19, 2024
HomeGaya HidupJangan muluk-muluk tetapkan resolusi berat badan di awal tahun

Jangan muluk-muluk tetapkan resolusi berat badan di awal tahun

Jangan muluk-muluk tetapkan resolusi berat badan di awal tahun



Jakarta (ANTARA) – Dokter spesialis kedokteran olahraga dr Michael Triangto, Sp.KO mengatakan resolusi menetapkan berat badan ideal harus realistis, dapat dicapai, dan dilakukan secara bertahap.

Baca juga: Ahli larang pil penurun berat badan yang menambah frekuensi buang air

Dia mengingatkan agar masyarakat tidak menetapkan resolusi untuk menurunkan berat badan di awal tahun dengan target yang terlalu tinggi.

Sasaran atau resolusi yang bisa kita nyatakan pada awal tahun adalah cita-cita kita. Cita-cita boleh, enggak, tinggi? Bisa. Asal jangan terlalu muluk-muluk,” kata Michael yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) itu saat dihubungi ANTARA, Rabu.

Misalnya, jika seseorang menargetkan penurunan berat badan sebanyak 10 kilogram selama setahun, maka tetapkanlah target secara bertahap dan tidak sekaligus misalnya enam bulan pertama harus turun sebanyak 5 kilogram dan sisanya diusahakan terpenuhi dalam enam bulan berikutnya.

“Bayangkan kalau yang berat badan idealnya itu masih 10 kilogram, 20 kilogram, bahkan 30 kilogram, enggak mungkin kita dalam satu waktu itu bisa mencapai itu semua. Bertahap,” imbuh Michael.

Setelah masa liburan Natal dan Tahun Baru, apalagi Idul Fitri, Michael mengingatkan biasanya sering terjadi masalah berat badan yang bertambah karena makan makanan yang lebih banyak dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik atau olahraga.

Jika penambahan berat badan terjadi, dia menyarankan untuk mengonsultasikan permasalahan tersebut dengan dokter mengenai berapa kilogram penurunan berat badan yang ideal untuk ditargetkan.

Menurut Michael, sasaran penurunan berat badan biasanya justru lebih sulit untuk dilakukan bagi orang-orang yang sebelumnya sudah memiliki berat badan ideal. Mereka terkadang menganggap remeh jika terjadi kenaikan berat badan yang tidak signifikan sehingga menunda-nunda olahraga dan diet.

“Gangguannya terlalu banyak. ‘Selama ini saya sudah olahraga, cukup berat’, sehingga dengan mulai lagi, kan harusnya sih bisa, cuma malas tidak secara psikologisnya? Nah, tetap saja kita harus mulai dari bawah dulu,” kata dia.

Apabila terjadi kenaikan berat badan akibat berkurangnya aktivitas fisik dan makan berlebih di masa liburan, Michael pun menyarankan untuk memulai kembali latihan fisik dengan jalan cepat (jalan cepat). Menurutnya, aktivitas fisik ini termasuk jenis yang paling murah dan mudah sehingga siapapun dapat melakukannya kapan pun dan di mana pun.

Sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), aktivitas fisik dengan intensitas sedang dapat dilakukan dengan durasi 150 menit per minggu. Menurut Michael, total durasi itu pun dapat dibagi dengan 30-50 menit dalam frekuensi 3-5 hari seminggu. Jika kebiasaan aktivitas fisik telah terbangun, maka program dapat meningkatkan intensitasnya dengan olahraga yang lebih berat.

“Bilamana yang bersangkutan sudah biasa cepat-cepat, tentunya kita berpikir yang lain. Mau tingkatkan boleh-boleh saja karena mungkin jalan cepat itu intensitasnya sudah terlalu ringan buat dia karena dia terbiasa,” kata Michael.

Baca juga: Dokter: Kurangnya aktivitas fisik saat liburan mempengaruhi performa kerja

Baca juga: Dokter: Perhatikan kenaikan berat badan hindari bahaya kehamilan

Baca juga: Makan malam tak bikin tambah berat badan asal porsinya imbang

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Ida Nurcahyani
HAK CIPTA © ANTARA 2023



Source link

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments