Jakarta (ANTARA) – Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen TNI Maruli Simanjuntak memastikan prajuritnya yang menjadi korban membuka seksi dari oknum petugas pertama yang menerima pemulihan psikologis.
“Oh pasti, pasti itu (ada pemulihan),” kata Maruli saat ditemui pada sela-sela kegiatannya meninjau pameran alutsista di Monumen Nasional, Jakarta, Senin.
Dalam kesempatan itu, dia mengaku terkejut ada kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh seorang petugas pertama di satuannya.
“Saya juga kaget-kaget lah, mengerikan juga gitu-gitu ya, tapi yang saya bilang dari kelihatannya sekian orang yang dilihat oleh rekan-rekan media sebenarnya mudah-mudahan minimal yang korban, yang betul-betul sampai membuka betul, memang disentuh juga mungkin bisa lapor ya,” kata Pangkostrad.
Seorang perwira pertama dari Batalyon Artileri Pertahanan Udara/Kostrad TNI AD diduga melakukan kekerasan seksual terhadap tujuh prajurit pria bawahannya yang seluruhnya berpangkat prajurit dua (prada).
Kepala Penerangan (Kapen) Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad) Kolonel Inf. Hendhi Yustian saat dihubungi di Jakarta, Kamis minggu lalu (21/9), menyampaikan pelaku yang berinisial Letnan Satu (Lettu) AAP, seorang komandan baterai (danrai), telah ditahan oleh Detasemen Polisi Militer (Denpom) Jaya/1 Tangerang setelah dia sempat melarikan diri dari satuan (desersi).
Yang sempat sempat melarikan diri, namun tadi malam (20/9), pelaku ini menyerahkan diri ke satuan kemudian langsung diserahkan ke Denpom 1 Tangerang, kata Hendhi Yustian.
Dia mengatakan sebelum pelaku menyerahkan diri penyidik dari Denpom Jaya/1 Tangerang telah memeriksa sejumlah saksi, yaitu para korban.
Dia mengatakan proses hukum pelaku saat ini masih ditangani oleh Denpom Jaya.
Kolonel Hendhi memastikan pelaku akan dihukum berat jika dia terbukti bersalah.
Kasus kekerasan seksual terhadap tujuh prajurit Yonarhanud 1/PBC/Kostrad terungkap setelah ada pendalaman internal di satuan. Kejadian itu diperiksa oleh satuan setelah ada laporan anonim dari nomor WhatsApp mengenai dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelaku ke bawahannya.
Dari pemeriksaan internal itu, kekerasan seksual tersebut diduga terjadi pada November 2021, Februari 2023, Maret 2023, April 2023, Mei 2023, Juni 2023, Juli 2023.
Sejauh ini, Pangkostrad menyebut kasus itu kemungkinan baru hanya terjadi di satu tempat pelaku berdinas
“Kayaknya baru satu deh. Jadi itu bisa diproses ya. Ini sekarang (pelaku) sudah ditahan. Ada pemeriksaan. Nggak mungkin itu sampai lepas. Itu mungkin membuat kita ngeri. Kita juga takut sebetulnya,” kata Maruli Simanjuntak.
Baca juga: Pangkostrad mengingatkan prajurit jaga nama besar Kostrad
Baca juga: Pangkostrad menjabat posisi strategis di Federasi Judo Internasional
Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Redaktur: Budi Suyanto
HAK CIPTA © ANTARA 2023