Friday, July 19, 2024
HomeTop NewsRestorasi dan kuota demi kehidupan terumbu karang di Nusa Penida Bali

Restorasi dan kuota demi kehidupan terumbu karang di Nusa Penida Bali

Restorasi dan kuota demi kehidupan terumbu karang di Nusa Penida Bali


Denpasar (ANTARA) – Pergerakan penumpang di Pelabuhan Sanur, Kota Denpasar, Bali, padat, terutama saat akhir pekan, dengan lalu lintas wisatawan menyeberang menuju Pulau Nusa Penida yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Klungkung.

Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Benoa yang menaungi Pelabuhan Sanur mencatat rata-rata pergerakan penumpang per hari di pelabuhan itu mencapai sekitar 7.000 orang untuk periode musim liburan dan pada hari biasa sekitar 3.000 orang.

Selain Sanur, jalur menuju pulau mungil dengan luas 202,84 kilometer persegi itu juga bisa melalui Kusamba di daratan Kabupaten Klungkung dan Pelabuhan Padangbai, Kabupaten Karangasem.

Pergerakan manusia itu bisa menjadi gambaran tingginya minat kunjungan wisatawan ke Pulau Nusa Penida, termasuk dua gugusan pulau lain di dalamnya, yakni Pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Tiga pulau ini menjadi magnet wisata di Bali, dengan pemandangan alam ikonik di punggung bukit di Pantai Kelingking, Nusa Penida, berbentuk mirip hewan purba, dinosaurus T-rex dan potensi bawah laut di pulau tersebut.

Arsip foto – Aktivitas CTC melakukan restorasi terumbu karang di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, Kamis (30/11/2023) ANTARA/HO-CTC Bali



Daerah Penida

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Sistem Data Base Konservasi (Sidako) mencatat di Bali terdapat empat wilayah konservasi perairan, salah satunya Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida, yang paling luas mencapai 20.057 hektar.

Sementara yang lainnya ada di Kawasan Konservasi Maritim Teluk Benoa, dengan luas 1.243 hektar, Kawasan Konservasi Buleleng seluas 18.060 hektar, dan Kawasan Konservasi Karangasem seluas 5.478 hektar.

Berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) Kelautan dan Perikanan Nomor 24 Tahun 2014, Kawasan Konservasi Perikanan Nusa Penida dikelola sebagai Taman Wisata Perikanan.

Daya tarik wisata di pulau itu, di antaranya wisata bahari yang dapat dilakukan wisatawan menyelam atau menyelam. Oleh karena itu, kawasan tersebut memiliki potensi ekonomi, di antaranya perikanan dan budidaya rumput laut.

Kawasan tiga pulau ini merupakan rumah bagi 296 spesies karang dan 576 spesies ikan karang, sehingga menjadikannya salah satu tempat terbaik untuk berenang bersama pari manta dan bahkan bisa menyelam bersama ikan mola-mola atau lumba-lumba. ikan mola-mola raksasa.

Dalam Kepmen itu juga sudah diatur zonasi wilayah konservasi, diantaranya zona inti konservasi, zona perikanan berkelanjutan, zona pemanfaatan dan zona suci.

Untuk zona inti konservasi seluas 468,85 hektar di wilayah Desa Pejukutan, Toyapakeh, dan Desa Sakti.

Kemudian zona perikanan berkelanjutan, yakni perikanan tradisional seluas 16.915,71 hektar, wisata bahari khusus seluas 905,24 hektar, budi daya rumput laut seluas 464,25 hektar.

Kemudian zona pemanfaatan, yakni kawasan wisata bahari seluas 1.221,28 hektar dan zona suci seluas 46,71 hektar.

Apabila dihitung, total kawasan wisata bahari khusus untuk zona perikanan berkelanjutan dan kawasan wisata bahari untuk zona pemanfaatan, totalnya mencapai 2.126,52 hektar, tersebar di Desa Kutampi Kaler, Toyapakeh, Ped, Jungutbatu, dan Lembongan. Kemudian di Desa Suana, Batununggul, Sakti, Ceningan, Bunga Mekar, Batumadeng, dan Batukandik.

Arsip foto – Terumbu karang tumbuh setelah melalui restorasi di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, Kamis (30/11/2023) ANTARA/HO-CTC Bali



Dampak wisata

Tak dapat dipungkiri, tingginya minat wisatawan berkunjung ke Pulau Nusa Penida yang saat ini menjadi magnet di Bali melahirkan dampak lain, salah satunya kerusakan ekosistem bawah laut terumbu karang.

Yayasan independen dan nirlaba, Pusat Segitiga Karang (Coral Triangle Center/CTC) Denpasar, Bali melakukan pengumpulan data kondisi terumbu karang di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida sejak 2008-2024.

Penasehat Konservasi Kesehatan CTC Marthen Welly mengungkapkan meski menyedot kunjungan wisata, dari hasil pengamatan selama 16 tahun itu tren kondisi terumbu karang di Nusa Penida cukup stabil atau dalam kondisi baik, dengan persentase rata-rata mencapai 60 persen, dengan perbandingan kesehatan karang untuk persentase 0-25 persen dinilai buruk, kemudian 25-50 persen merupakan tingkat sedang dan di atas 50 persen memiliki kategori baik.

Meskipun begitu, masih ada pekerjaan rumah untuk menjaga kondisi kesehatan terumbu karang dan menyelamatkan 40 persen sisa terumbu karang yang dalam kondisi rusak.

Penyebab rusaknya terumbu karang itu, di antaranya penempatan fasilitas wisata yang kurang tepat, misalnya ada beberapa ponton atau platform terapung yang memberi dampak terhadap ekosistem terumbu karang di bawahnya.

Kemudian, aktivitas penyelaman yang merusak terumbu karang, misalnya karena ulah oknum penyelaman, hingga kecerobohan yang menyebabkan terumbu karang rusak.

Masyarakat tentu masih ingat dengan penemuan terumbu karang yang digali-gali oleh penyelaman sekitar tahun 2016 yang viral dan menyedot perhatian masyarakat nasional dan internasional.

Arsip foto – sejumlah penumpang dari Pulau Nusa Penida tiba di Pelabuhan Sanur, Denpasar, Kamis (9/11/2023) ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna



Upaya pemulihan

Badan PBB untuk Program Lingkungan (UNEP) mengestimasi terumbu karang memiliki nilai yang signifikan, di antaranya untuk pariwisata, perikanan, perlindungan pesisir, hingga sumber obat-obatan mencapai 2,7 triliun dolar AS per tahun.

Selain itu, terumbu karang yang sehat dapat menyerap karbon dioksida dari atmosfer, sehingga berperan terhadap upaya menekan dampak pemanasan global.

Hanya saja, aktivitas manusia cenderung mendorong degradasi terumbu karang, sehingga membutuhkan upaya pemulihan yang perlu melibatkan kerja sama banyak pihak.

Untuk itu, CTC melakukan restorasi terumbu karang di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida, sejak tiga tahun lalu. Pemetaan yang dilakukan untuk program restorasi itu menyasar wilayah terumbu karang yang rusak.

Di Nusa Penida, metode restorasi dilakukan dengan memasang wadah berbahan besi, dengan bentuk menyerupai bintang atau bintang karang. Agar serpihan karang menempel dengan baik, wadah tersebut dilapisi pasir.

Tanpa dilapisi pasir, pecahan karang yang hanya diikat pada besi, dinilai tidak efektif karena berpotensi lepas dan tidak tumbuh.

Totalnya sudah ada sekitar 1.000 bintang karang yang terletak di dasar laut atau setara dengan luas sekitar 2.000 meter persegi di sejumlah wilayah di Nusa Penida yang terumbu karangnya rusak, di antaranya di Desa Toya Pakeh dan Desa Ped.

Lokasi lain yang direncanakan untuk restorasi adalah kawasan Teluk Gamat di Desa Sakti, dengan potensi rehabilitasi mencapai sekitar 5.000 meter persegi.

Upaya restorasi itu tidak hanya dilakukan di kawasan terkenal dan menjadi primadona wisatawan, tetapi juga di tempat lain agar menjadi objek baru, sehingga beban wisata bisa merata.

Periode Maret-Mei dan September-November merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pemulihan terumbu karang karena mempertimbangkan udara laut yang tenang dan musim laut yang stabil.

Arsip foto – Aktivis CTC melakukan restorasi terumbu karang di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida di Kabupaten Klungkung, Bali, Kamis (30/11/2023) ANTARA/HO-CTC Bali



Kuota penyelaman

Di kawasan Nusa Penida, setidaknya ada sekitar 18 titik penyelaman, namun yang lebih terkenal dan menjadi favorit adalah Crystal Bay dan Manta Point. Akibatnya, aktivitas wisata bahari terfokus pada titik tertentu, sehingga beban wisata tidak merata.

Untuk itu, perlu diterapkan kuota dengan cara registrasi secara daring, sehingga ada skema bergiliran untuk menyelam. Apabila dalam satu waktu ada 40-45 perahu cepat, dengan asumsi masing-masing kapal membawa empat orang penyelam, maka diperkirakan sebanyak 180 orang menyelam dalam satu waktu dan tempat secara bersamaan.

Arena itu, kapasitas perlu diatur, misalnya, maksimal dalam satu waktu 10 kapal, dengan asumsi empat orang atau 40 orang menyelam dan dilanjutkan dengan bergiliran.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Putu Sumardiana menyebutkan saat ini masih tahap kajian daya dukung lingkungan, khususnya terhadap ekosistem terumbu karang di kawasan konservasi Nusa Penida dan dua pulau lainnya.

Sehingga saat ini belum ada pengaturan terkait kuota di titik penyelaman tertentu. Di satu sisi, penerapan kuota berpotensi memberi dampak terhadap ekonomi, yakni berkurangnya pemasukan.

Namun di sisi lain, ada potensi nilai tambah ketika kuota penyelaman diterapkan, yakni memberi ruang lebih besar dalam menjaga keberlanjutan ekosistem terumbu karang sebagai aset berharga untuk jangka panjang.

Transportasi laut dan alat penyelaman yang canggih, bisa jadi tidak memberi arti jika keindahan terumbu karang itu rusak.

Meskipun ada upaya pemulihan, namun langkah tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Selain itu, upaya tersebut juga perlu dilakukan dengan menjaga lingkungan agar terhindar dari sampah plastik yang juga berdampak buruk terhadap ekosistem laut.

Bahasa Indonesia:

Editor: Masuki M. Astro
Hak Cipta © ANTARA 2024



Source link

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments