Thursday, June 20, 2024
HomeInternationalTiongkok ingin perluas inisiatif 'Jalur Sutra Digital'

Tiongkok ingin perluas inisiatif 'Jalur Sutra Digital'



Xi'an (ANTARA) – Pemerintah China ingin perluasan dan percepatan Jalur Sutra Digital atau Digital Silk Road (DSR) di antara negara-negara anggota Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative atau BRI).

“China ingin bergandengan tangan untuk bekerja sama dengan negara-negara anggota BRI dalam mengembangkan ekonomi digital, membangun area-area terluar dan juga mengembangkan pasar sehingga setiap tahun kami membuat pertemuan mengenai perdagangan elektronik untuk China dan anggota BRI,” kata Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China (CPPCC) ke-14 Wang Yong di Xi'an, Provinsi Shaanxi, Selasa.

Wang Yong menyampaikan hal tersebut dalam pembukaan Forum Pengembangan Jalur Sutra Digital pada Konferensi Internet Dunia yang diselenggarakan pada 15-16 April 2024.

Forum ini diselenggarakan bersama oleh pemerintah provinsi Shaanxi dan World Internet Conference (WIC) yaitu satu badan yang berbasis di Beijing untuk mempromosikan visi Tiongkok terhadap dunia maya.

Tema forum tersebut adalah “Konektivitas dan Kesejahteraan Bersama” dan membahas tiga topik yaitu “Konektivitas Digital dan Kerja Sama dalam Membangun Jalur Sutra”, “Jalur Sutra dalam Kerja sama E-commerce Internasional” serta dan “Desa Digital dan Pembangunan Berkelanjutan”.

“Tahun ini untuk pertama kalinya pembahasan Jalur Sutera Digital dilakukan di Xi'an, kota yang pernah menjadi ibu kota saat masa jalur sutra kuno. Hal ini menunjukkan teknologi membawa banyak peluang baru dan sebagai negara berkembang terbesar di dunia, Tiongkok pun mendorong integrasi teknologi digital , “papar Wang Yong.

Menurut Wang Yong, China ingin berbagi keuntungan perkembangan ekonomi digitalnya dengan anggota BRI. Hal itu dapat mendorong konektivitas timbal balik dan memperkuat rantai pasok digital sambil menjaga lingkungan bisnis digital yang terbuka, adil, dan tidak diskriminatif.

“Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, Tiongkok siap bekerja sama dengan negara-negara lain untuk lebih memajukan penggunaan teknologi kami dan melawan blokade teknologi yang dapat memecah pembangunan. Tiongkok ingin 'Digital Silk Road' dapat menjadi wadah saling bertukar informasi di bidang teknologi sehingga teknologi digital dapat bermanfaat bagi lebih banyak negara dan lebih banyak orang,” ungkap Wang Yong.

Zhuang Rongwen selaku Ketua World Internet Conference (WIC) yang juga Kepala Cyberspace Administration of China atau badan pengawas internet nasional mengatakan perlunya membuat tata kelola digital di tingkat global untuk menghadapi tantangan dan risiko bidang digital.

“Pentingnya ada sistem tata kelola bersama di bidang keamanan teknologi sehingga harus ada perumusan dan pengembangan norma dan standar tata kelola digital global. Tiongkok melihat perlunya kita melakukan dialog dan mengambil inisiatif bersama,” ujar Zhuang Rongwen.

Jalur Sutra Digital atau Digital Silk Road (DSR) pertama kali diusulkan Presiden Xi Jinping pada 2015 yaitu berisi program kerja sama di bidang teknologi dan komunikasi misalnya ekonomi digital, kecerdasan buatan, nanoteknologi hingga komputasi pengukuran kepada negara-negara anggota Belt and Road Initiative (BRI ).

Sekitar 800 orang menjadi peserta forum tersebut yang berasal dari organisasi dan perusahaan asal hampir 50 negara dan wilayah, termasuk Global System for Mobile Communications Association (GSMA), Shanghai Cooperation Organization, Intel, SAP, Nokia, ZTE, AS Intel, Micron Technology, Qualcomm , platform operator perdagangan elektronik Tiongkok PDD Holdings dan Alibaba Group Holding, raksasa komputer pribadi Lenovo Group dan perusahaan asuransi Pingan Group.

Pada akhir 2022, Tiongkok telah menandatangani nota kesepahaman mengenai pembangunan Jalur Sutra Digital dengan 17 negara, dan kerja sama perdagangan elektronik (perdagangan elektronik) dengan 30 negara, menurut buku putih yang dirilis oleh Kantor Informasi Dewan Negara China.

Sejumlah perusahaan raksasa perdagangan elektronik China seperti Alibaba dan Pinduoduo juga telah meluncurkan platform lintas batas, seperti Lazada dan Temu, untuk membantu lebih banyak produk China “mengglobal”.

Belt and Road Inisiatiave (BRI) sendiri diluncurkan pada tahun 2013 yang melibatkan investasi dan pembangunan infrastruktur besar-besaran di Tiongkok di 152 negara yang tersebar di Eropa, Asia termasuk Indonesia, Timur Tengah, Amerika Latin dan Afrika.

Baca juga: Nilai tambah ekonomi digital sumbang lebih dari 40 persen PDB Beijing
Baca juga: Tiongkok menghasilkan lebih dari 32 data zetabita pada tahun 2023

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Redaktur : M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2024



Source link

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments