Sunday, February 25, 2024
HomeInternationalRumah duka di Shanghai diisukan kewalahan kremasi jenazah

Rumah duka di Shanghai diisukan kewalahan kremasi jenazah



Beijing (ANTARA) – Sejumlah rumah duka di Kota Shanghai, China, diisukan kewalahan melayani permintaan kremasi jenazah dalam beberapa hari terakhir saat kasus COVID-19 melonjak.

Menurut informasi yang beredar luas secara berani, sejumlah rumah duka terpaksa mengkremasi dua atau lebih mayat dalam satu insinerator.

Otoritas Shanghai, yang membantu aparat kepolisian setempat, bergerak untuk mengecek situasi di lapangan dan melakukan tindakan hukum terhadap pelaku pelanggaran.

Biro Urusan Sipil (CAB) Kota Shanghai dalam keterangan persnya, Minggu (1/1), memastikan pengoperasian peralatan pengabuan jenazah di sejumlah rumah duka sesuai standar nasional.

Standar itu, sebut CAB, satu insinerator untuk satu jenazah.

“Martabat mendiang dan keluarga tetap terjaga. Kondisi seperti yang beredar di internet tidak pernah terjadi di rumah duka mana pun,” demikian dinyatakan CAB.

Pihaknya mengakui jumlah kasus positif COVID-19 terus bertambah sehingga memicu peningkatan jumlah kematian di China.

CAB dan instansi terkait menyatakan telah bekerja keras untuk mengatur dan mengatasi pelanggaran di kalangan pelaku usaha kremasi, termasuk masalah kewalahan dan tingginya tarif kremasi.

Sejak akhir Desember 2022, otoritas setempat telah menutup 23 laman kremasi dan menindak unit pelayanan kremasi abal-abal dan pekerjanya yang menyebarkan informasi palsu.

Menurut laporan media lokal, Kepolisian Shanghai telah membentuk satuan tugas khusus untuk melakukan tindakan pelanggaran terkait dengan pandemi dan bisnis pengabuan mayat.

Tiga broker kremasi dengan menaikkan tarif kremasi lebih dari 50 persen di Shanghai telah ditetapkan sebagai dugaan.

Beberapa hari sebelumnya, informasi juga marak soal banyak mayat yang tidak segera diabukan di pusat layanan kremasi Babaoshan, Kota Beijing.

Namun, pihak pengelola menyatakan keadaan itu terjadi karena banyak pekerjanya yang tidak masuk akibat mengalami gejala tertular COVID-19.

Otoritas China telah mencabut berbagai penyelesaian antipandemi COVID-19 secara bertahap mulai 7 Desember lalu.

Kebijakan pelonggaran tersebut diambil saat China dilanda gelombang COVID-19, khususnya Omicron BF.7.

Baca juga: China menjawab rumor tingginya angka kematian akibat COVID-19

Baca juga: Kematian COVID di Shanghai jadi 87, kasus positif di Beijing bertambah

Atas COVID-19 di China, Shanghai tingkatkan pengiriman obat



Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Tia Mutiasari
HAK CIPTA © ANTARA 2023



Source link

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments